KIMIA LINGKUNGAN DAN PERANANNYA

Juni 4, 2009

KIMIA LINGKUNGAN DAN PERANANNYA
Ilmu kimia merupakan faktor yang memegang peranan penting dalam memperlajari Lingkungan Hidup, karena dalam Lingkungan Hidup selalu ada ahan-bahan kimia. Oleh karena itu untuk mempelajari Lingkungan Hidupan peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya, perlu adanya dari ilmu kimia yang khusus memperlajari bahan-bahan kimia yang ada dalamLingkungan Hidup. Ilmu tersebut dinamakan Ilmu Kimia Lingkungan, yang memperlajari sifat-sifat, fungsi, terbentunya serta proses kimia yang terjadi dalam lingkungan hidup.
Selain di atas Ilmu Kimia Lingkungan sangat diperlukan dalam mempelajari Lingkungan Hidup karena dalam Lingkungan Hidup tercakup komponen-komponen yang terdiri dari bahan kimia dan terjadi pula perputaran bahan kimia. Anda telah mengetahui bahwa Lingkungan Hidup terdiri dari beberapa omponen yang dikelompokan menjadi dua kelompok besar yaitu kelompok akhluk hidup (living group) yang disebut juga kelompok biotik dan kelompok tak hidup (non living group) yang disebut pula abiotik. Yang termasuk kelompok biotik adalah manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, bakteri dan fungsi yang kesemuanya dibangun dari bahan-bahan kimia dan merupakan gudang proses kimia. Sedangkan yang termasuk abiotik terdiri dari tiga faktor yaitu faktor energi matahari, faktor fisis, faktor bahan kimia.
Lingkungan Hidup dapat didekati dari semua disiplin ilmu antara lain ilmu kimia, sehingga muncul Ilmu Kimia Lingkungan. Hal ini wajar karena karena semua komponen baik kelompok biotik maupun kelompok biotik yang menyusun Lingkungan Hidup terdiri dari unsur dan senyawa kimia, dimana saja akhirnya semua keadaan fisik memerlukan analisis dan penentuan-penentuan secara proses kimia. Dengan demikian ilmu kimia memegang peranan penting dan turut menentukan dalam penyelesaian serta memecahkan masalah Lingkungan Hidup.
Peranan Ilmu Kimia Lingkungan antara lain:
Mempelajari sifat dan fungsi bahan kimia dalam lingkungan hidup.
Mempelajari dan menelaah bahan kimia terhadap suatu komponen lain dan terhadap Lingkungan Hidup secara menyeluruh, terutama jika bahan kimia itu tersebar dan berkontaminasi dengan lingkungan, sehingga keseimbangan terganggu.
Menentukan jumlah batas penyebaran bahan kimia dalam lingkungan agar tidak memberikan gangguan terhadap kelestarian lingkungan dan kesejahteraan manusia.
Merekomendasikan hasil penelitian dan percobaan kepada pengelola Lingkungan Hidup atau kepada masyarakat pada umumnya.
Itulah pentingnya peranan Ilmu Kimia dalam mempelajari semua benda (komponen biotik maupun kelompok abiotik) dalam Lingkungan Hidup, sehingga berarti Ilmu Kimia Lingkungan memegang peranan yang amat penting bagi masa depan Lingkungan Hidup kita termasuk kesejahteraan manusia.

Iklan

SUMBER-SUMBER TERJADINYA PENCEMARAN

Juni 4, 2009

SUMBER-SUMBER TERJADINYA PENCEMARAN

Bahan kimia yang tersebar dalam lingkungan fisik ini ada yang bermanfaat dan sangat diperlukan kehadirannya dalam jumlah sebanyak mungkin, ada yang berguna dalam kadar tertentu ada pula yang betul-betul bersifat sebagai racun dan berbahaya bagi kehidupan manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Bahan-bahan kimia yang kehadirannya dalam lingkungan hidup dapat menyebabkan terganggunya kesejahteraan hidup manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan disebut bahan pencemar. Sebagai sumber utama terjadinya pencemar adalah:

? Proses-proses alam, antara lain pembusukan secara biologis, aktivitas gunung berapi, terbakarnya semak-semak, dan halilintar.

? Pembuatan/aktivitas manusia, seperti:

a. Hasil pembakaran bahan bakar yang terjadi pada industri dan kendaraan bermotor.

b. Pengolahan dan penyulingan bijih tambang mineral dan batubara.

c. Proses-proses dalam pabrik.

d. Sisa-sisa buangan dari aktivitas-aktivitas tersebut di atas.

Pencemaran lingkungan ini sudah terjadi sejak jaman dahulu kala, sejak adanya manusia, tetapi baru abad 20 pencemaran yang diakibatkan karena manusia ini menjadi pokok bahasan pada semua kalangan masyarakat dan perlu mendapat penanganan dan pengawasan secara serius.

Faktor-faktor penyebab terjadinya pencemaran lingkungan sebagai

hasil sampingan perbuatan manusia meliputi;

? Faktor Industrialisasi.

? Faktor Urbanisasi.

? Faktor Kepadatan Penduduk.

? Faktor Cara Hidup.

? Faktor Perkembangan Ekonomi.

Faktor-faktor di atas saling mempengaruhi secara kompleks. Apabila salah satu faktor terjadi, maka faktor lainnya dapat terjadi, dengan demikian terjadinya pencemaran lingkungan tidak dapat dihindari. Contoh-contoh faktor-faktor yang sangat mengganggu lingkungan hidup antara lain:

1) Faktor Industrialisasi

a. Pertambangan, transportasi, penyulingan dan pengolahan bahan hingga menghasilkan barang yang dapat digunakan.

b. Pertambangan, transportasi, penyulingan dan penggunaan bahan bakar untuk menghasilkan energi.

c. Sisa-sisa buangan yang dihasilkan sebagai hasil sampingan selama proses proses di atas.

2) Faktor Urbanisasi

a. Pembukaan hutan untuk perkampungan, industri dan sistem transportasi.

b. Penimbunan atau menumpuknya sisa-sisa buangan/sampah dan hasil samping selama proses-proses di atas.

3) Perkembangan/pertumbuhan penduduk yang pesat

a. Meningkatnya kebutuhan tempat tinggal/perumahan.

b. Meningkatnya kebutuhan pangan dan kebutuhan energi.

c. Meningkatnya kebutuhan barang-barang konsumsi dan bahan-bahan untuk hidup.

4) Faktor Cara Hidup

a. Penggunaan barang kebutuhan secara berlebihan sehingga terbuang percuma.

b. Tuntutan akan kemewahan.

c. Pemborosan energi.

5) Faktor Perkembangan Ekonomi

a. Meningkatnya penggunaan bahan sumber, misal BBM, hasil hutan.

b. Meningkatnya sisa-sisa buangan sebagai hasil sampingan produksi barang-barang kepentingan dalam pabrik dan meningkatnya bahan pencemar.

KEBUNTUAN EVOLUSI MOLEKULER

Juni 4, 2009

KEBUNTUAN EVOLUSI MOLEKULER

Pada bagian sebelumnya, telah digambarkan bagaimana catatan fosil menggugurkan teori evolusi. Sebenarnya hal ini tidak perlu dilakukan, karena teori evolusi telah runtuh jauh sebelum orang sampai pada klaim “evolusi spesies” dan bukti-bukti fosil. Yang membuat teori evolusi sejak awal kehilangan arti adalah pertanyaan bagaimana kehidupan pertama kali muncul di muka bumi.

Ketika menjawab pertanyaan ini, teori evolusi menyatakan bahwa kehidupan berawal dari sebuah sel yang terbentuk secara kebetulan. Berdasarkan skenario ini, empat miliar tahun lalu, dalam atmosfir bumi purba berbagai senyawa tidak hidup bereaksi, di bawah petir dan tekanan menghasilkan sel hidup pertama.

Hal pertama yang harus diingat, pernyataan bahwa senyawa-senyawa anorganik dapat bergabung membentuk kehidupan sama sekali tidak ilmiah dan tidak dikuatkan dengan eksperimen atau observasi. Kehidupan hanya muncul dari kehidupan. Setiap sel hidup terbentuk melalui replikasi sel hidup lainnya. Tak seorang pun di dunia pernah berhasil membentuk sel hidup dengan mencampurkan materi-materi anorganik, bahkan di laboratorium yang paling canggih sekalipun.

Teori evolusi menyatakan bahwa sel-sel makhluk hidup yang tidak dapat diproduksi sekalipun dengan mengerahkan seluruh kecerdasan, pengetahuan, dan teknologi manusia berhasil terbentuk secara kebetulan dalam kondisi bumi purba. Pada halaman-halaman selanjutnya, kita akan melihat bahwa pernyataan ini sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar ilmu pengetahuan dan nalar.

Dongeng tentang “Sel yang Terbentuk Secara Kebetulan”

Jika seseorang yakin bahwa sel hidup dapat terbentuk secara kebetulan, maka tidak ada yang dapat menghalanginya mempercayai dongeng seperti di bawah ini. Dongeng mengenai sebuah kota kecil:

Pada suatu hari, segumpal tanah liat yang terjepit di antara bebatuan daerah tandus menjadi basah karena hujan. Saat matahari terbit, tanah liat basah ini mengering dan mengeras menjadi sebuah bentuk yang kokoh. Bebatuan yang berperan sebagai cetakan, karena suatu hal kemudian hancur berkeping-keping, dan muncullah batu bata berbentuk rapi, bagus, dan kuat. Selama bertahun-tahun, batu bata ini menunggu batu bata serupa terbentuk dalam kondisi alam yang sama. Peristiwa ini berlangsung terus hingga terbentuk ratusan bahkan ribuan batu bata serupa di tempat itu. Dan secara kebetulan, tidak ada satu pun dari batu bata yang lebih dulu terbentuk menjadi rusak. Meskipun terkena badai, hujan, angin, terik matahari, dan dingin membekukan, batu-batu bata tersebut tidak retak, remuk, atau terseret menjauh. Di tempat yang sama dan dengan tekad yang sama, mereka menunggu batu bata lain terbentuk.

Ketika jumlah batu bata mencukupi, batu-batu bata ini membentuk sebuah bangunan dengan menyusun diri ke samping dan saling bertumpuk akibat secara acak digerakkan oleh kondisi alam seperti angin, badai dan tornado. Sementara itu, bahan-bahan seperti semen atau campuran pasir terbentuk dalam “kondisi alamiah” pada saat yang tepat dan merayap di antara batu-batu bata untuk merekatkan mereka. Pada saat yang bersamaan, bijih besi di dalam bumi terbentuk dalam “kondisi alamiah” dan bersama batu-batu bata membangun pondasi gedung. Pada akhir proses, sebuah bangunan berdiri lengkap dengan semua bahan, kusen-kusen serta instalasi kabel listrik.

Suku Akit di Riau

Juni 4, 2009

Salah Satu Suku Asli Riau

Sumatera merupakan tempat tinggal bagi suku-suku besar yang mempunyai tradisi budaya terkenal seperti Aceh, Batak, Minangkabau dan Melayu. Selain itu terdapat juga sejumlah suku-suku minoritas dan nyaris tidak dikenal. Sebagian besar suku ini terdapat di dataran rendah Sumatera sebelah timur dimana mereka pernah hidup secara tradisional di kawasan hutan luas diantara sungai-sungai penting maupun rawa-rawa pantai dan pulau-pulau lepas pantai.

Di pedalaman terdapat Orang Sakai yang berada diantara Sungai Rokan dan Siak, Orang Petalangan diantara sungai Siak dan Kampar dan diantara Sungai Kampar dan Indragiri, dan Orang Talang Mamak diantara sungai Indragiri dan Batang Hari.

Ada juga Orang Batin Sembilan di kawasan antara sungai Batang Hari dan Musi, khususnya di sisi perbatasan propinsi Jambi. Suatu populasi yang mempunyai hubungan erat dengan Orang Batin Sembilan berada dan pernah hidup secara tradisional di kawasan sisi perbatasan Sumatera Selatan. Kawasan-kawasan lebih kecil yang terbentuk oleh banyak cabang sungai di hulu DAS Batang Hari dan DAS Musi merupakan tempat tinggal bagi orang-orang yang menamakan dirinya sebagai Orang Rimba. Satu-satunya suku minoritas yang tidak tinggal di pedalaman diantara sungai-sungai adalah Orang Bonai. Mereka mendiami daerah berawa di pertengahan DAS Sungai Rokan yang bersebelahan dengan kawasan Orang Sakai.

Di kawasan pantai tedapat Orang Akit tepatnya di pulau Rupat diantara muara sungai Siak dan Rokan dan Orang Utan di beberapa pulau dan tanah daratan antara kuala Sungai Siak dan Kampar. Kemudian diantara kuala sungai Kampar dan Batang Hari terdapat Orang Kuala atau dalam bahasa mereka disebut Duano.

Di pulau-pulau lepas pantai tedapat berbagai sub-kelompok Orang Laut dari kepulauan Riau dan Lingga. Selain itu juga terdapat keturunan Orang Darat yang dulunya hidup di pedalaman pulau-pulau Riau yang besar, namun keadaan mereka sekarang tidak diketahui.

Di Sumatera Selatan terdapat Orang Sekak di kawasan pesisir kepulauan Bangka dan Belitung. Pada waktu dulu mereka biasa hidup berpindah-pindah sebagai orang perahu. Yang tersisa adalah Orang Lom, disebelah utara pulau Bangka.

Dalam kemajemukan bangsa Indonesia terdapat berbagai suku bangsa yang hingga sekarang ini kita sebut “suku-suku bangsa terasing”, suatu istilah yang kini terasa kurang positif. Ketika istilahnya diajukan, maksudnya ialah untuk menunjuk pada “keterasingan” dalam arti geografis karena daerah yang dihuni suku-suku bangsa bersangkutan, memang sulit dijangkau. Mereka umumnya bermukim dalam wilayah yang sangat terpencil. Akan tetapi, selanjutnya lebih diakui “keterasingan” mereka dalam arti sosial budaya, yaitu terdapatnya kesenjangan sosial-budaya suku-suku bangsa dengan keadaan bangsa Indonesia.

Kelambanan dan kurang berhasilnya program pembinaan komunitas adat terpencil di Indonesia pada umumnya, bukanlah semata-mata karena keterbatasan dana, data, dan tenaga trampil, melainkan juga karena belum ditemukannya rancangan program pembinaan yang terarah dan teruji sesuai dengan konsep sosial budaya Masyarakat Suku Akit itu sendiri.

Menurut Mozkowski (1908, 1909) dan Loeb (1935) pola kehidupan Masyarakat suku Sakai pada dasamya adalah mengembara. Mereka hidup dari meramu hasil hutan, berburu hewan liar dan menangkap ikan, sambil menanami ladang mereka pun menanam ubi kayu beracun (ubi menggalo). Kebiasaan mengembara tersebut berubah karena ada perintah dari Sultan Siak yang mengliaruskan mereka menanami ladang mereka dengan padi. Kewajban menanam padi di ladang ini dilakukan dengan pengawasan yang ketat oleh para halin (kepala dukuh) yang bersangkutan, disertai sanksi yang keras. Penanaman padi dilakukan dengan berbagai upacara yang bersifat sakral. Penanaman uhi menggalo, yang sebenamya merupakan makanan pokok Masyarakat suku Sakai, tidak dilakukan dengan perawatan yang sungguh-sungguh dan tidak disertai dengan upacara apa pun.

Pada masa lampau kegiatan hidup mereka lebih banyak dilakukan di perairan laut dan muara-muara sungai. Mereka mendirikan rumah di atas rakit-rakit yang mudah di pindahkan dan satu tepian ke tepian lain. Daerah mereka termasuk ke dalam kepenghuluan Hutan Panjang, kecamatan Rupat, kabupaten Bengkalis. Jumlah populasinya sekitar 3.500 jiwa.

Menurut cerita orang tua-tua mereka, nenek moyang orang Akit berasal dan salah satu anak suku Kit yang menghuni daratan Asia Belakang. Karena suatu alasan mereka mengembara ke selatan, melewati Semenanjung Malaka. Keadaan telah memaksa mereka mengenal gelombang dan asinnya air laut, tetapi juga kebebasan bergerak di atas rakit dan sampan. Dengan demikian mereka telah mulai mengembangkan kehidupan adaptif di perairan kepulauan Riau. Orang Akit menggantungkan kehidupannya kepada kegiatan berburu, menangkap ikan dan mengolah sagu. Mereka berburu babi hutan, kijang atau kancil dengan menggunakan sumpit bertombak, panah, dan kadangkala pakai perangkap. Teman setia mereka untuk perburuan macam itu adalah anjing.

Orang Akit memiliki adat kebiasaan bersunat yang sebenarnya sudah jauh sebelum agama Islam masuk. Prinsip garis keturunan mereka cenderung patrilineal. Selesai upacara perkawinan seorang isteri segera dibawa oleh suaminya ke rumah mereka yang baru, atau menumpang sementara di rumah orang tua suami. Pemimpin otoriter boleh dikatakan tidak kenal dalam Masyarakat Suku Akit sederhana ini, tetapi karena pengaruh kesultanan Siak masa dulu sukubangsa Akit mengenal juga pemimpin kelompok yang disebut batin. Orang Akit dikenal pemberani dan berbahaya sekali dengan senjata sumpit beracunnya. Sehingga mereka diajak bekerja sama memerangi Belanda yang pada zaman itu sering menangkapi orang Akit untuk dijadikan budak. Mereka menyebut orang Melayu sebagai orang selam, maksudnya Islam. Sistem kepercayaan aslinya berorientasi kepada pemujaan roh nenek moyang. Pada masa sekarang sebagian orang Akit sudah memeluk agama Budha, terutama lewat perkawinan perempuan mereka dengan laki-laki keturunan Tionghoa.

Orang Akit mengenal tiga tahapan penting dalam kehidupan manusia:

1. Hamil dan melahirkan bayi,

2. Perkawinan,

3. Kematian.

Tahap-tahap tersebut dianggap sebagi puncak-puncak peristiwa dalam hidup tetapi juga sebagai tahap-tahap yang paling berbahaya. Untuk itu ada sejumlah upacara yang bertujuan agar dalam peristiwa-peritiwa penting tersebut si pelaku dan keluargannya serta Masyarakat Suku Akit tempatnya hidup dapat selamat dari segala bahaya. Segala peristiwa penting yang menyangkut kehidupan manusia secara individual tersebut berlaku dalam kehidupan keluarga. Suatu keluarga Masyarakat suku Akit pada dasarnya adalah keluarga inti yang terdiri dari suami, istri, dan anak-anak mereka. Ada juga keluarga Masyarakat suku Akit yang luas, ditambah dengan salah satu orangtua istri atau suami, atau kemenakan yang menumpang sementara. Jumlah keluarga luas dalam Masyarakat Akit tidak banyak, karena keadaan seperti itu dianggap sebagai terkecualian untuk menolong orang jompo atau yang memerlukan pertolongan sementara.

Salah satu ciri Masyarakat suku Akit sebagaiman dilihat oleh orang Melayu adalah agama mereka bersifat animistik. Agama asli Masyarakat suku Akit memang berdasarkan kepercayaan pada berbagai mahluk halus, ruh, dan berbagai kekuatan gaib dalam alam semesta, khususnya dalam lingkungan hidup manusia mempunyai pengaruh terhadap kesejahteraan hidup mereka. Mahluk gaib ini mereka namakan antu, Sedangkan Mozkowski (1908, 1909) dan Loeb (1935) menyebutkan bahwa Masyarakat suku Sakai percaya kepada Betara Guru.

Masyarakat suku Akit dikenal oleh orang Melayu sebagai pembuat anyaman tikar dan rotan yang baik. Hal ini disebabkan karena sebagian besar peralatan yang mereka gunakan dibuat dengan cara mengikat dan menganyam. Mereka menganyam berbagai wadah untuk menyimpan dan mengangkut barang dari rotan, daun rumbia, daun kapau, dan kulit kayu. Di masa lampau mereka juga membuat pakain dari kulit kayu yang dipukul sedemikian rupa sehingga menjadi tipis, halus seta kuat. Namun yang lebih unik lagi, dalam berbagai hal tersebut mereka tidak menggunakan paku sebagai pengaitnya.

Selain menganyam yang merupakan keahlian dan kebiasaan hidup mereka sehari-hari, nampaknya tidak ada bentuk kerajinan lainnya. Kesenian yang biasa mereka nikmati Ungkapan adalah dikir (yang sebetulnya adalah upacara pengobatan secara ungkapan kesenian dalam bentuk nyanyian atau puisi tidak dikenal. Tetapi dongeng-dongeng yang bersifat fabel masih (sering diceritakan kepada anak-anak mereka). Terutama dongeng mengenai si kancil, dongeng ini mempunyai makna simbolik bagi identitas diri mereka yang terbelakang, hanya dengan kecerdikan sajalah mereka dapat mengatasi segala kesulitan hidup.

Dalam kehidupan Masyarakat suku Akit setiap keluarga harus mempunyai sebidang ladang. Karena hanya dan hasil ladang itulah mereka dapat memenuhi kebutuhan makanan mereka sehari-hari. Juga, lahan di ladang itulah mereka hidup, yaitu membangun rumah, membentuk keluarga, merasa aman dan menemukan jati diri mereka. Mereka dibesarkan di ladang dan membesarkan anak-anak mereka.

BUKIT RIMBANG BUKIT BALING

Mei 31, 2009

BUKIT RIMBANG BUKIT BALING

Kawasan Hutan Suaka Margasatwa (SM) Bukit Rimbang Bukit Baling merupakan kawasan konservasi yang memiliki kekuatan hukum berdasarkan SK Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Riau No. Kapts. 149/V/1982 tanggal 12 Juni 1982 dengan luas + 136.000 Ha. Berdasarkan letak geografis SM Bukit Rimbang Bukit Baling terletak pada 00 08’ – 00 37’ lintang selatan dan 1000 48’ – 1010 17’ Bujur Timur.
SM Bukit Rimbang Bukit Baling memiliki karakteristik yang khas yaitu merupakan tipe hutan hujan basah dataran rendah dengan keanekaragaman hayati tinggi yang menjadi habitat berbagai jenis satwa langka dan terancam punah, disamping itu juga sebagai penyangga sistem ekologis disekitarnya. SM Bukit Rimbang Bukit Baling, membentang sepanjang Bukit Barisan Bagian Tengah. Terletak di dua Kabupaten di Propinsi Riau, yaitu Sebagian besar di Kabupaten Kampar dan sebagian lainnya di Kabupaten Kuantan Sengingi. Daerah ini berbatasan dengan Proponsi Sumatera Barat.
Kelompok Hutan SM Bukit Rimbang Bukit Baling mayoritas mempunyai topografi berbukitan dengan kemiringan 25 % – 100 %. Daerah perbukitan yaitu Bukit Baling di Barat Daya kawasan dengan ketinggian + 927 m dpl dan Bukit Rimbang di sebelah utara kawasan dengan ketinggian + 1070 m dpl.
Deretan perbukitan juga menjadi batas alam kawasan dengan Propinsi Sumatera Barat. Perbukitan yang menjadi batas tersebut secara berangkai yaitu: Bukit Padang awan, Bukit Kulit Manis (1256 m dpl), Bukit Lempahan (1100 m dpl), Bukit Peninjauan Elok (1200 m dpl), Bukit Sigamai-gamai (1232 m dpl), Bukit Perhantian Gadang (1187 m dpl), Bukit Tobu ambar (785 m dpl), Bukit Lentik Tarik manarik (490 m dpl), Bukit Teranggang (774 m dpl), dan Bukit Pandan Abu (716 m dpl).
Kawasan SM Bukit Rimbang Bukit Baling merupakan daerah hulu dari dua Sub Daerah Aliran Sungai, yaitu Sungai Sibayang dan Sungai Singingi yang merupakan sub das dari DAS Kampar. Sungai Sibayang dan Sungai Singingi memiliki lebar 10 –30 meter dengan kedalaman saat surut lebih dari 1 meter.

Keanekaragaman Hayati
Fauna di dalam kawasan SM Bukit Rimbang Bukit Baling berasal dari berbagai kelas diantaranya kelas mamalia, Aves, Reptilia, Ampibia, dan Pisces. Beberapa spesies mamalia termasuk dalam katagori di lindungi seperti; Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Harimau Dahan (Neofelis nebulose), Tapir (Tapirus indica), Rusa (Cervus unicolor), Kukang (Nycticebus coucang), Siamang (Hylobates syndactylus), Babi Hutan (Sus vitatus), Simpai (Presbitys melalophos), Lutung Dada Putih (Presbitys femoralis), Marang (Ratufa afinis), Napu (Tragulus napu) dan Beruang Madu (Helaectos malaynus).
Spesies-spesies dari kelas aves berjumlah 171 jenis, yang termasuk katogori dilindungi diantaranya: Elang (Elanus caeruleus), Prenjak (Prinia familiaris), Pelatuk (Celeus brachyurus), Berbagai jenis Rangkong (Famili Bucerotidae), Raja Udang (Alcedo atthis), Sesap madu (Anthreptes malaccensis), Murai (Coupsycus malabaricus), Alap-alap (Accipieter vigatus), Burung Hantu Besar (Bubo sumatranus), Bentet Coklat (Lanius schach), Kuau (Argusaianus argus).

KONDISI SOSIAL, EKONOMI, DAN BUDAYA MASYARAKAT

Sosial Masyarakat

Masyarakat mendiami wilayah tersebut telah berlangsung lama bahkan ada yang mulai menempati wilayahnya sejak jaman kerajaan baik kerajaan Kampar maupun kerajaan Kuantan. Wilayah tersebut bukan merupakan daerah transmigrasi.
Masyarakat sudah mulai melakukan interaksi dengan masyarakat lain, tetapi data tentang jumlah masyarakat yang melakukan datang dan pergi tidak terdapat di desa. Biasanya pendatang yang masuk ke desa harus mencari induk semang, menjadi bagian suku tertentu di desa. Biasanya penetapan sebagai bagian suku dilakukan oleh tokoh adat (datuk) yang ada. Setelah diangkat menjadi anak kemenakan dalam suku tertentu maka pendatang boleh menetap di desa tesebut.
Lembaga – lembaga informal yang terdapat di desa antara lain; lembaga adat, Kelompok tani, Arisan, Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD), PKK dan Pengajian. Semua lembaga masih berjalan dengan baik, tetapi belum berjalan dengan maksimal. Masih perlu dilakukan pembinaan oleh aparat pemerintahan yang lebih tinggi.
Lembaga adat biasanya tidak berbentuk formal, keberadaan lembaga adat ini biasanya karena adanya suku-suku di desa. Setiap suku yang ada di desa mempunyai datuk dan ninik mamak tersendiri. Lembaga ini berfungsi untuk mengurus permasalahan adat saat :
– Pernikahan
Dalam acara penikahan anak kemenakan, ninik mamak sangat berperan dalam menentukan pelaksanaan dan tata cara adat penikahan.
– Persoalan Tanah (khusus tanah ulayat)
Keberadaan tanah ulayat biasanya di miliki bersama oleh suku-suku yang ada di desa. Permasalahan ulayat biasanya di tentukan oleh ninik mamak para suku dan melalui musyawarah para datuk.

– Hutan dan sungai
Masyarakat di desa biasanya mempunyai hutan dan sungai larangan yang tidak boleh melakukan pengambilan hasil hutan maupun hasil sungai. Larangan ini bisanya diwujudkan dalam bentuk ‘pagar’ (dipagar secara magic oleh datuk). Hutan dan sungai larangan biasanya di panen satu tahun sekali dan dilakukan oleh semua masyarakat di desa.

Pertambangan penduduk mengakibatkan ancaman tersendiri bagi keberadaan hutan-hutan di koridor (80 KK tidak punya lahan) di Desa Seberang Cengar. Dengan sendirinya masyarakat yang tidak memiliki lahan tersebut, sebagai mata pencaharian adalah mengambil kayu.
Dalam tabel 2 dapat dilihat penggunaan lahan yang terdapat di desa Aur Kuning dan Desa Batu Sanggang. Pola penggunaan lahan ini menjadi bagian tak terpisahkan dengan kondisi masyarakat.
Penggunaan tanah/lahan pada masyarakat di Kecamatan Kampar Kiri Hulu telah mengalami penggeseran seperti pada Bangunan/perkarangan mengalami peningkatan pada tahun 2000 berjumlah 1041,7 Ha dan pada tahun 2001 berjumlah 1042,9 Ha. Mengalami pengurangan pada Hutan negara, pada tahun 2000 berjumlah 59.909,7 dan pada tahun 2001 menjadi 59.856,2 Ha.
Di dalam tabel 3 juga memperlihatkan kondisi pembagian lahan di desa Kota Baru, desa Pangkalan Indarung, desa Lubuk Ambacang dan desa Seberang Cengar.
Dalam pengambilan keputusan atau mengkritisi kebijakan yang masuk ke desa masyarakat tidak secara langsung teribat namun mempercayakan kepada ninik mamak/pimpinan suku mereka untuk memusyawarahkannya dengan aparat desa serta pihak-pihak yang tekait. Peranan ninik mamak/pimpinan suku sangat mempengaruhi dalam pengambilan kebijakan di desa baik terhadap kebijakan yang dibuat oleh desa maupun kebijakan yang datang dari luar.
Fungsi dan peranan kaum perempuan dalam kehidupan sehari-hari secara umum adalah sebagai pengelola ekonomi rumah tangga dengan laki-laki sebagai kepala rumah tangga yang bertugas untuk mencari panghasilan, ada juga perempuan yang ikut mencari uang (menyadap karet) untuk menambah pemasukan rumah tangga. Dalam kehidupan sosial peran perempuan dianggap sama haknya dengan laki-laki, begitu juga dalam kehidupan berbudaya perempuan banyak terlibat dalam acara budaya yang tentunya sesuai dengan kemampuan dan kodratnya.

Ekonomi masyarakat

Pola Kepemilikan lahan dan pemanfaatan lahan
1. Lahan di desa merupakan tanah ulayat. Lahan tersebut digunakan masyarakat sebagai pemukiman dan perkebunan karet dan sawit (secara umum karet, sawit hanya sebagian kecil/ sedikit). Masyarakat mendiami wilayah tersebut sudah lama sejak jaman kerajaan.
2. Kecenderungan pemerintah, lahan atau hutan yang ada digunakan sebagai Suaka Margasatwa dan pelindungan Hidrologi untuk DAS Kampar dan DAS Singingi. Secara tata ruang juga telah di tetapkan sebagai kawasan lindung SM BRBB.
3. Hambatan yang dihadapi masyarakat dalam pemanfaatan lahan :
a. Untuk pemanfaatan lahan hutan lindung untuk perkebunan saat ini jelas tidak dibolehkan pemerintah sehingga masyarakat tidak lagi melakukan perambahan dan perluasan areal perkebunannya.
c. Hambatan yang kedua berasal dari gajah, babi dan binatang liar lainnya. Gajah-gajah liar yang berada di kawasan koridor sering merusak perkebunan masyarakat. Serta babi biasanya sering menghancurkan tumbuhan karet yang masih kecil.
4. Sedangkan Perusahaan cenderung memanfaatkan lahan ini untuk lahan HTI, HGU ataupun HPH, seperti yang terjadi sekarang untuk kawasan di sekitar SM BRBB, bahkan sekarangan sudah ada pertambangan batu bara, perkebunan kelapa sawit, HTI Alkasia PT. RAPP dan HTI Alkasia PT. Perawang Sukses Makmur.
Di desa Lubuk. Ambacang sedang dibangun jembatan menuju Desa Koto Kombu (koto kombu berbatasan dengan hutan) ancaman pada hutan untuk illegal logging, karena mudahnya sarana pengangkutan kayu. Keberadaan pembangunan jalan yang menghubungkan desa-desa di dalam kawasan SM BRBB. Akan mengurangi tutupan hutan baik secara langsung maupun tidak langsung. Kemudahan akses pengambilan kayu, menyebabkan perusakan hutan yang tidak dapat dihindarkan.
Mata Pencaharian Masyarakat yang utama adalah perkebunan karet, ada sebagian masyarakat yang kelapa sawit dan palawija. Perkebunan karet di dapatkan secara turun temurun dan cenderung karet alam (karet lama). Masyarakat tidak melakukan pengembangan tanaman baru karena lahan yang ada sudah masuk kawasan hutan lindung. Hampir seluruh masyarakat memiliki kebun karet dan hanya sebagian kecil saja yang tidak mempunyai kebun karena pekerjaanya sebagai pegawai atau guru.
Pola penyadapan karet yang salah (satu pohon lebih dari satu goresan perhari dan tidak teratur) mengakibatkan pohon karet cepat mati. Sekarang masyakat akan mecoba menanam pohon coklat.
Pendapatan masyarakat di desa ini beragam. Disebabkan keberagama pekerjaan masyarakat. Perkebunan disana hampir keseluruhan karet. Kalau panen penjualan karet maka penghasilan antara 9,2 juta/tahun – 12, juta/ tahun.
Penjualan karet masyarakat kepengumpul 2 kali seminggu. Sekali menjual ke pengumpul bisa 50 kg – 70 kg. Untuk buruh tebang 1 ton kubik kayu bergaji Rp. 7.000 – Rp.10.000 per orang. Satu hari itu 1 orang bisa menebang kayu rata-rata 7 – 8 ton. Satu kelompok penebang bisa menghasilkan kayu 10 – 15 ton kubik kayu. Pedagang pengumpul mendapatkan 1 juta – 3 juta/bulan.

Budaya Masyarakat

Struktur dan gelar adat masing-masing subetnis berbeda satu sama lain, tetapi biasanya masih menggunakan nama datuk sebagai sesepuh dari ninik mamak.
Struktur dan gelar adat hanya sebagian desa saja yang masih ada seperti di Pangkalan Indarung ; Datuk Bandaro sebagai kepala suku, Datuk Paduko Kayo sebagai bidang sosial dalam hubungan antar suku, Datuk Sanyato mengurus sengketa antara suku dan anak kemenakan. Di desa Kota baru juga terdapat struktur dan gelar adat seperti Datuk Penghulu sebagai kepala suku, Datuk Monti mengurus setiap acara-acara adat, Datuk Sanyato mengurus sengketa antar suku dan antar anak kemenakan. Di desa lubuk ambacang juga terdapat Datuk pucuk, Datuk penghulu berempat, Datuk Monti, datuk dubalang.
Beberapa ritual penting yang terdapat dalam masyarakat di desa Pangkalan Indarung seperti dilarang memburu Harimau. Pengambilan hasil hutan seperti madu sialang dengan menggunakan dukun. Dan secara ekologi yang dimiliki oleh desa tersebut adalah ;
– pelarangan menebang di hutan larangan
– Pelarangan penebangan hutan di bukit yang dikakinya (kaki bukit) terdapat rumah penduduk. Boleh ditebang yang sebaliknya.
– Pelarangan penebangan pohon sialang
– Pelarang pengambilan ikan larangan di sungai singingi
– Pelarangan menebang pohon-pohon besar.

Kearifan tradisional ini masih bertahan di desa Pangkalan Indarung, kecuali penebangan pohon besar, sekarang sudah tidak ada lagi. Kearifan tradisional ini masih bertahan karena didukung oleh ninik mamak, aparat desa tohoh masyarakat, masyarakat dan kaum muda. Bahkan yang sangat antusias dalam adat justru kebanyakan kaum muda. Pengaruh ninik mamak sangat besar dalam tata kehidupan masyarakat, bahkan lebih berpengaruh dari aparat desa. Otomatis adat masih bisa bertahan. Sanksi yang diberikan apabila ada pelangaranan adalah denda dan pencabutan hak dalam pengambilan keputusan di desa (dikucilkan dalan sosial).
Bentuk interaksi masyarakat dengan hutan pada umumnya merupakan interaksi ekonomi untuk mengambil hasil-hasil hutan; seperti Meranti, giam, madu sialang, karet alam dan juga untuk perladangan atau perkebunan baru. Untuk intraksi ekologi hanya sebatas pada sungai larangan yang di panen satu tahun sekali (desa pangkalan indarung dan Batu sanggang).
Masyarakat mengatakan bahwa mereka berhak menggunakan/memanfaatkan hutan selagi tidak merusak lingkungan, tidak melanggar aturan pemerintah dan aturan adat. Kecuali masyarakat luar yang masuk itupun harus ada persetujuan ninik mamak. Menurut masyarakat, pemerintah dan perusahaan juga berhak menggunakan /memanfaatkan hutan setelah ada musyawarah dengan ninik mamak dan sesuai dengan aturan.

BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

Mei 31, 2009

BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN
1. Kondisi Bahan Berbahaya dan Beracun
Kebutuhan bahan kimia untuk perindustrian baik industri farmasi, kimia, pupuk, pertambangan, kesehatan dan pertanian makin lama semakin meningkat. Pengawasan peredaran B3, pengelolaan bahan kimia B3 menjadi sangat penting untuk dilaksanakan oleh industri penghasil, pengangkut, pengedar, penyimpan dan pengguna B3, agar dapat mengurangi risiko penggunaan B3 mencemari lingkungan dan kesehatan manusia.
Menurut data UNEP ada 100.000 jenis senyawa kimia yang digunakan dan ratusan digolongkan ke dalam B3, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, dapat mengganggu kesehatan manusia dan lingkungan apabila tidak dikelola dengan tepat dan benar. Beberapa kasus yang terjadi misalnya peristiwa Bopal, telah membuka mata industri maupun pemerintah dan masyarakat untuk mengelola B3 dan limbah B3 yang dihasilkannya dengan lebih baik.
2. Kecenderungan Dampak Lingkungan Hidup
Saat ini ada sekitar 5.500 bahan kimia berbahaya dan beracun yang keluar-masuk Indonesia. Upaya untuk mencegah pencemaran lingkungan oleh B3 adalah mengawasi jumlah bahan kimia yang beredar dan masuk ke wilayah Indonesia, mengawasi perpindahan lintas batas terutama untuk bahan kimia yang dilarang dan terbatas penggunaannya.
Pemerintah juga mengawasi persistent organic pollutants (POPs) yang ada di Indonesia. POPs adalah bahan kimia yang bersifat racun biasanya digunakan sebagai bahan aktif pestisida, tahan perubahan (stabil), bisa terakumulasi di dalam tubuh mahluk hidup (bersifat bioakumulasi) dan bisa berpindah melalui udara, air dan mahluk hidup yang jauh dari sumbernya, terakumulasi dalam lingkungan teresterial atau lingkungan akuatik. POPs sudah dilarang penggunaannya. Sayangnya informasi mengenai sisa senyawa atau residu dari penggunaan di masa lalu sangat minim dan tidak mudah melacak keberadaannya. Meskipun demikian masih ada yang menggunakan POPs secara ilegal.
3. Upaya Pengelolaan B3
Upaya panjang menyusun peraturan pengelolaan B3 setelah melalui tahapan persiapan, pembahasan internal maupun antardeparteman sejak tahun 2000, akhirnya pada tanggal 26 November 2001 ditetapkan Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun yang berlaku secara nasional enam bulan sejak tanggal ditetapkan.
Untuk menjamin penggunaan bahan kimia berbahaya dan beracun tidak merusak lingkungan dan mempunyai tingkat keamanan tinggi baik bagi kesehatan manusia dan lingkungan maka diperlukan peningkatan upaya pengelolaan B3 baik di tingkat nasional, regional maupun internasional, sehingga akan mengurangi resiko pencemaran, kerusakan lingkungan dan gangguan kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya.
Konvensi Internasional yang menunjang penerapan peraturan tentang pengelolaan B3 antara lain:
• Konvensi Rotterdam – PIC (Prior Informed Consent) mengatur masalah lintas batas bahan kimia ke negara-negara berkembang, yang sudah tidak digunakan lagi di negara produsen atau pemakaiannya telah sangat dibatasi di negara-negara industri, dengan memberlakukan prosedur notifikasi.
• Konvensi Stockholm tentang POPs yang mengatur tentang pelarangan penggunaan 12 jenis bahan kimia yang tergolong POPs.
Saat ini telah disusun rancangan Surat Keputusan Tim Pengelolaan B3 untuk persiapan ratifikasi Konvensi Rotterdam mengenai prosedur PIC dan rancangan akan dibahas dengan Instansi terkait antara lain Departemen Kesehatan, Departemen Pertanian, Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Departemen Luar Negeri, Departemen Keuangan (Ditjen Bea Cukai) dan Komisi Pestisida.

Hello world!

Mei 31, 2009

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!